Beranda / Khutbah Jumat / Adab Islam Saat Musim Kemarau

Adab Islam Saat Musim Kemarau

Khutbah Pertama

الحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ وَجَعَلَ الظُّلُمَاتِ وَالنُّورَ، ثُمَّ الَّذِينَ كَفَرُوا بِرَبِّهِمْ يَعْدِلُونَ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ 

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الحَاضِرُونَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ المُتَّقُونَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الكَرِيمِ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

Jamaah Jum’at yang dirahmati Allah SWT,

Tauhid Adalah Fondasi Hidup Seorang Muslim

Marilah kita tingkatkan ketakwaan kita kepada Allah SWT dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi seluruh larangan-Nya. Takwa adalah satu-satunya bekal terbaik yang akan menyelamatkan kita di dunia maupun di akhirat.

Saat ini, kita sedang menyaksikan dan merasakan perubahan cuaca berupa musim kemarau. Teriknya sinar matahari, susahnya mendapatkan air bersih di beberapa daerah, hingga hawa panas yang menyengat saat siang, tetapi dingin menusuk saat malam, terasa menguji kesabaran kita. Sebagai seorang muslim, setiap fenomena alam—termasuk kemarau panjang—bukanlah sekadar siklus cuaca biasa, melainkan pengingat dari Allah SWT agar kita kembali mengevaluasi diri dan menjaga adab-adab islami.

Jamaah yang dimuliakan Allah,

Islam adalah agama yang sempurna. Ia memberikan petunjuk dalam segala aspek kehidupan, termasuk panduan sikap dan adab seorang muslim saat menghadapi musim kemarau. Adab seorang muslim saat kemarau diantaranya:

  1. Memperbanyak istighfar dan bertaubat (Al-inabah)

Musim kemarau panjang dan kekeringan acap kali terjadi sebagai pengingat atas dosa dan kelalaian manusia. Oleh karena itu, adab utama yang wajib kita hadirkan adalah memperbanyak istighfar serta bertaubat secara sungguh-sungguh.

Istiqomah dalam Beribadah

Allah SWT berfirman menceritakan seruan Nabi Nuh AS kepada kaumnya dalam Surat Nuh ayat 10–12:

فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا . يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا . وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا 

“Maka aku berkata (kepada mereka), ‘Mohonlah ampunan kepada Tuhanmu, sungguh, Dia Maha Pengampun. Niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat dari langit kepadamu, dan Dia memperbanyak harta dan anak-anakmu, serta mengadakan kebun-kebun untukmu dan mengadakan sungai-sungai untukmu.'” (QS. Nuh: 10–12) 

Ayat ini mempertegas bahwa kunci dibukanya pintu-pintu rahmat dan berkah dari langit, termasuk diturunkannya hujan yang membawa kehidupan, adalah dengan memperbanyak istighfar dan memperbaiki hubungan kita dengan Allah SWT.

  1. Bersabar dan tidak mencela cuaca

Adab kedua adalah menjaga hati dan lisan dari mengeluh atau mencela cuaca panas. Sering kali saat tubuh merasa gerah dan lelah, lisan kita secara tidak sadar mengumpat teriknya matahari atau panasnya udara. Padahal, cuaca dan angin adalah makhluk yang bergerak di bawah perintah dan ketetapan Allah.

Menjaga Kesehatan Agar Optimal Dalam Beribadah

Rasulullah SAW melarang tegas tindakan mencela angin dan fenomena alam. Beliau bersabda:

لاَ تَسُبُّوا الرِّيحَ، فَإِذَا رَأَيْتُمْ مَا تَكْرَهُونَ فَقُولُوا: اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِ هَذِهِ الرِّيحِ وَخَيْرِ مَا فِيهَا وَخَيْرِ مَا أُمِرَتْ بِهِ، وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ هَذِهِ الرِّيحِ وَشَرِّ مَا فِيهَا وَشَرِّ مَا أُمِرَتْ بِهِ 

“Janganlah kalian mencela angin. Jika kalian melihat apa yang tidak kalian sukai, maka berdoalah: ‘Ya Allah, sesungguhnya kami memohon kepada-Mu kebaikan angin ini, kebaikan apa yang ada di dalamnya, dan kebaikan tujuan ia diperintahkan. Dan kami berlindung kepada-Mu dari keburukan angin ini, keburukan yang ada di dalamnya, serta keburukan tujuan ia diperintahkan.'” (HR. Tirmidzi) 

  1. Menghemat penggunaan air

Di musim kemarau, ketersediaan air bersih menjadi sangat terbatas. Salah satu prinsip adab dalam Islam adalah tidak boros (israf), termasuk dalam mengonsumsi air—bahkan untuk ibadah sekalipun.

Diriwayatkan dari Abdullah bin Amr bin Al-Ash RA bahwa Rasulullah SAW pernah melewati Sa’ad bin Abi Waqqas yang sedang berwudhu, lalu Beliau menegurnya:

مَا هَذَا السَّرَفُ يَا سَعْدُ؟ قَالَ: أَفِي الْوُضُوءِ سَرَفٌ؟ قَالَ: نَعَمْ، وَإِنْ كُنْتَ عَلَى نَهْرٍ جَارٍ

“Betapa borosnya wudhumu ini wahai Sa’ad!’ Sa’ad bertanya: ‘Apakah dalam wudhu ada pemborosan?’ Beliau menjawab: ‘Ya, walaupun engkau berada di tepi sungai yang mengalir.'” (HR. Ibnu Majah)

Jika untuk wudhu saja kita dilarang berlebihan menggunakan air, maka untuk kebutuhan harian seperti mandi, mencuci, dan keperluan domestik lainnya, tentulah kita dituntut untuk jauh lebih bijaksana dan hemat.

  1. Saling menolong dan memperbanyak sedekah

Kemarau sering kali berdampak langsung pada saudara-saudara kita yang kekurangan air bersih atau mengalami gagal panen. Adab seorang muslim terhadap sesama di masa-masa sulit ini adalah mengulurkan tangan.

Rasulullah SAW bersabda mengenai keutamaan memberi minum kepada yang membutuhkan:

أَفْضَلُ الصَّدَقَةِ سَقْيُ الْمَاءِ

“Sedekah yang paling utama adalah memberi air minum.” (HR. Ahmad dan An-Nasa’i)

  1. Disyariatkan Shalat Istisqa’

Apabila musim kemarau telah berlangsung panjang hingga membawa dampak kesulitan (pancaroba/kekeringan), adab yang diajarkan Nabi SAW secara berjamaah adalah menunaikan Shalat Istisqa’—shalat sunnah dua rakaat untuk memohon hujan.

Jamaah Jum’at yang berbahagia,

Mari kita jadikan musim kemarau ini sebagai momen muhasabah (evaluasi diri). Kemarau memang bisa mengeringkan tanah dan sumur-sumur kita, tetapi jangan sampai kemarau itu mengeringkan rasa empati, kesabaran, dan istighfar di dalam hati kita. Semoga Allah SWT senantiasa membimbing kita dalam adab yang mulia dan melimpahkan rahmat-Nya kepada kita semua. Aamiin

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

 

Khutbah Kedua

الْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا كَمَا أَمَرَ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ إِرْغَامًا لِمَنْ جَحَدَ بِهِ وَكَفَرَ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ سَيِّدُ الْإِنْسِ وَالْبَشَرِ

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ مَا اتَّصَلَتْ عَيْنٌ بِنَظَرٍ وَأُذُنٌ بِخَبَرٍ

أَمَّا بَعْدُ: فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ، اتَّقُوا اللهَ تَعَالَى وَاعْلَمُوا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ، وَثَنَّى بِمَلاَئِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ، فَقَالَ تَعَالَى: إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيعٌ قَرِيبٌ مُجِيبُ الدَّعَوَاتِ

اللَّهُمَّ اسْقِنَا الْغَيْثَ وَلاَ تَجْعَلْنَا مِنَ الْقَانِطِينَ. اللَّهُمَّ اسْقِنَا غَيْثًا مُغِيْثًا مَرِيئًا مَرِيعًا نَافِعًا غَيْرَ ضَارٍّ، عَاجِلاً غَيْرَ آَجِلٍ

اللَّهُمَّ أَنْبِتْ لَنَا الزَّرْعَ، وَأَدِرَّ لَنَا الضَّرْعَ، وَاسْقِنَا مِنْ بَرَكَاتِ السَّمَاءِ، وَأَنْبِتْ لَنَا مِنْ بَرَكَاتِ الأَرْضِ

اللَّهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلاَءَ وَالْوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَالْمِحَنَ، وَسُوْءَ الْفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، عَنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً، وَعَنْ سَائِرِ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِينَ عَامَّةً، يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

أَقِيمُوا الصَّلَاةَ

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *