Beranda / Khutbah Jumat / Makna Kemerdekaan yang Hakiki Menurut Ajaran Islam

Makna Kemerdekaan yang Hakiki Menurut Ajaran Islam

Khutbah Pertama

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

الحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ. قَالَ اللَّهُ تَعَالَى فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيمِ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

Tauhid Adalah Fondasi Hidup Seorang Muslim

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,

Melalui mimbar yang mulia ini, khatib berwasiat kepada diri sendiri dan kepada seluruh jemaah sekalian untuk senantiasa meningkatkan kualitas iman dan takwa kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Mari kita jalankan segala perintah-Nya dengan penuh ketulusan dan kita jauhi segala larangan-Nya dengan penuh kesadaran. Sebab, hanya dengan takwa inilah seorang hamba akan meraih derajat kemuliaan yang sejati di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Hadirin jemaah Jumat yang dimuliakan Allah,

Ketika kita berbicara tentang kemerdekaan, sering kali pikiran kita tertuju pada terbebasnya suatu bangsa dari cengkeraman penjajahan fisik, lepasnya suatu negara dari dominasi kekuasaan asing, atau terlepasnya diri dari pasungan rantai besi penindasan. Semua itu memang bentuk kemerdekaan lahiriah yang sangat patut kita syukuri bersama.

Namun, Islam memandang kemerdekaan dengan kacamata yang jauh lebih dalam, luas, dan substansial. Kemerdekaan fisik dan politik hanyalah gerbang luar. Lantas, bagaimanakah makna kemerdekaan yang hakiki menurut ajaran Islam?

Istiqomah dalam Beribadah

Secara substansial, kemerdekaan hakiki dalam Islam adalah pembebasan jiwa dan pikiran manusia dari segala bentuk penghambaan kepada makhluk menuju penghambaan murni hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Makna mendalam ini pernah dirumuskan dengan sangat indah oleh seorang sahabat Nabi, Rib’i bin ‘Amir Radhiyallahu ‘Anhu, ketika berhadapan dengan panglima perang Persia, Rustum. Ketika ditanya mengenai alasan kedatangan pasukan muslimin, Rib’i bin ‘Amir memberikan jawaban tegas:

نَحْنُ قَوْمٌ ابْتَعَثَنَا اللهُ لِنُخْرِجَ مَنْ شَاءَ مِنْ عِبَادَةِ الْعِبَادِ إِلَى عِبَادَةِ اللهِ، وَمِنْ ضِيقِ الدُّنْيَا إِلَى سَعَتِهَا، وَمِنْ جَوْرِ الْأَدْيَانِ إِلَى عَدْلِ الإِسْلَامِ

“Allah telah mengutus kami untuk memerdekakan manusia dari penghambaan kepada sesama manusia menuju penghambaan hanya kepada Allah; dari kesempitan dunia menuju kelapangannya; serta dari kezaliman agama-agama menuju keadilan Islam.”

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,

Menjaga Kesehatan Agar Optimal Dalam Beribadah

Definisi yang disampaikan oleh Rib’i bin ‘Amir tersebut menggambarkan tiga pilar utama kemerdekaan hakiki dalam pandangan Islam:

  1. Kemerdekaan Jiwa dari Penghambaan Selain Allah

Manusia sering kali merasa bebas hanya karena tidak memiliki tuan secara fisik. Padahal, jiwanya boleh jadi terbelenggu oleh berhala-berhala modern: harta, jabatan, popularitas, atau hawa nafsunya sendiri. Seseorang yang hidupnya didikte oleh keserakahan dan dikendalikan oleh keinginan jahat nafsunya sejatinya adalah seorang tawanan.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Surah Al-Furqan ayat 43:

أَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلٰهَهُ هَوَاهُ أَفَأَنْتَ تَكُونُ عَلَيْهِ وَكِيلًا

“Sudahkah engkau (Muhammad) melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya? Apakah engkau akan menjadi pelindung baginya?” (QS. Al-Furqan: 43)

Kemerdekaan sejati dimulai saat seseorang mampu membebaskan hatinya dari keterikatan pada selain Allah. Saat tauhid (Laa ilaaha illallah) menancap meresap di dalam dada, ia tidak akan bisa dibeli oleh harta, tidak akan tunduk pada kezaliman, dan tidak akan menghambakan diri pada kepentingan duniawi yang fana.

  1. Kemerdekaan dari Kesempitan Dunia menuju Kelapangan Iman

Dunia dengan segala perhiasannya sering kali memenjarakan manusia dalam rasa cemas yang tak berkesudahan, rasa iri hati, serta ketakutan akan kehilangan rezeki. Orang yang merdeka secara hakiki adalah orang yang hatinya lapang karena ridha atas takdir Allah dan merasa cukup (qana’ah) dengan apa yang dimilikinya.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda dalam sebuah hadits shahih yang dirawikan oleh Imam Bukhari dan Muslim:

لَيْسَ الغِنَى عَنْ كَثْرَةِ العَرَضِ، وَلٰكِنَّ الغِنَى غِنَى النَّفْسِ

“Kekayaan (kecukupan) yang sejati itu bukanlah dengan banyaknya harta benda, melainkan kekayaan yang sejati adalah kekayaan jiwa (hati yang merasa cukup).” (HR. Bukhari dan Muslim)

Jiwa yang kaya dan merdeka tidak akan mudah goyah oleh gemerlap dunia. Ia tahu bahwa dunia hanyalah tempat persinggahan sementara, sedangkan akhirat adalah negeri yang kekal abadi.

  1. Kemerdekaan dari Kezaliman menuju Keadilan dan Persamaan Derajat

Islam datang untuk meruntuhkan tembok-tembok kasta, diskriminasi warna kulit, keturunan, dan kezaliman sosial. Dalam pandangan Islam, seluruh manusia terlahir dalam keadaan merdeka dan memiliki derajat yang sama di hadapan hukum Allah. Tidak ada kelebihan bagi seorang Arab atas non-Arab, atau orang berkulit putih atas orang berkulit hitam, melainkan karena ketaqwaannya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala menegaskan prinsip kesetaraan dan kemerdekaan ini dalam Surah Al-Hujurat ayat 13:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ

“Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa.” (QS. Al-Hujurat: 13) 

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,

Bagaimanakah cara kita memelihara kemerdekaan yang hakiki ini dalam kehidupan sehari-hari?

Pertama, perkuat akidah dan tauhid kita. Jangan biarkan iman kita goyah oleh bujuk rayu kebendaan atau ketakutan kepada selain Allah. Orang yang takut hanya kepada Allah akan dibebaskan dari rasa takut kepada seluruh makhluk.

Kedua, tingkatkan literasi dan keilmuan. Kebodohan adalah penjara pikiran. Islam mewajibkan setiap muslim untuk menuntut ilmu agar pikirannya merdeka dari persangkaan buruk, kebohongan, dan manipulasi informasi.

Ketiga, tegakkan keadilan dan kebaikan sosial. Kemerdekaan pribadi yang kita miliki harus melahirkan kepedulian terhadap sesama. Jangan sampai kita merasa merdeka, namun tindakan kita justru menzalimi, merampas hak, atau memenjarakan kebebasan orang lain.

Hadirin yang dimuliakan Allah,

Marilah kita introspeksi diri. Sudahkah diri kita benar-benar merdeka? Ataukah kita masih menjadi budak dari nafsu, amarah, kesombongan, dan syahwat kita sendiri?

Mari kita mohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar memberikan kepada kita kemerdekaan lahir dan batin, kemerdekaan negara dan bangsa kita dari segala bentuk penjajahan dan keterbelakangan, serta kemerdekaan jiwa kita dari cengkeraman dosa dan penghambaan kepada selain-Nya.

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Khutbah Kedua

الحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا كَمَا أَمَرَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ إِرْغَامًا لِمَنْ جَحَدَ بِهِ وَكَفَرَ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ سَيِّدُ الإِنْسِ وَالبَشَرِ

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ مَا اتَّصَلَتْ عَيْنٌ بِنَظَرٍ وَأُذُنٌ بِخَبَرٍ

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ، اتَّقُوا اللَّهَ تَعَالَى فِيمَا أَمَرَ، وَانْتَهُوا عَمَّا نَهَى عَنْهُ وَزَجَر. وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيهِ بِنَفْسِهِ، وَثَنَّى بِمَلَائِكَتِهِ المُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ فَقَالَ تَعَالَى

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ  مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى  إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ  إِبْرَاهِيمَ، وَبَارِكْ عَلَى  مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ  مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى  إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ  إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيعٌ قَرِيبٌ مُجِيبُ الدَّعَوَاتِ

اللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلَامَ وَالمُسْلِمِينَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالمُشْرِكِينَ، وَانْصُرْ عِبَادَكَ الموَحِّدِينَ

اللَّهُمَّ حَرِّرْ قُلُوبَنَا مِنْ عُبُودِيَّةِ هَوَانَا وَالشَّيْطَانِ، وَاجْعَلْنَا مِنْ عِبَادِكَ المُخْلِصِينَ

اللَّهُمَّ احْفَظْ بَلَدَنَا إِنْدُونِيْسِيَا وَسَائِرَ بِلَادِ المُسْلِمِينَ مِنَ الفِتَنِ وَالمِحَنِ وَالسُّوءِ، وَاجْعَلْهُ بَلَدًا آمِنًا مُطْمَئِنًّا سَخَاءً رَخَاءً

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ 

عِبَادَ اللهِ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ 

أَقِيمُوا الصَّلَاةَ

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *